Pages

Powered by Blogger.

Monday, October 3, 2011

IDEOGENESIS



Manusia memiliki dua macam kemampuan kognitif( kemampuan mengerti) yang kurang lebih teramati/tidak gaib dan dapat dirumuskan, yakni indera dan intelek. Indera dapat dibagi menjadi indera ekstern(kelima indera) dan indera intern(ingatan, imajinasi, dan sebagainya). Intelek adalah kemampuan inorganis, yakni kemampuan yang tidak bergantung pada suatu organ badani. Indera terdiri atas bermacam jenisnya, sedangkan intelek hanya satu, tetapi kemampuan intelek mempunyai berbagai fungsi, seperti menangkap, mengabstraksikan, menyimpulkan, dan sebagainya.
Antara pengetahuan inderani dan intelektual terdapat perbedaan hakikat. Pengetahuan inderani menangkap kenyataan secara materialiter, berdasarkan aspek konkret dan materialnya, sedangkan intelek menjangkau kenyataan secara formal. Dalam bentuk pengetahuan inderani yang kita miliki adalah gambaran-gambaran inderani, sifatnya jasmani. Sedangkan dalam bentuk intelektual, kita menggunakan konsep/ide yang umum dan abstrak.
Bagi manusia, satu-satunya pintu gerbang menuju realitas bendawi adalah inderanya. Tidak ada satu hal pun yang bersifat bendawi dapat masuk ke dalam intelek selain terlebih dahulu melewati panca indera.
Kemampuan mengabstraksi itu dapat menggarap, menerangi ‘kesan’ tadi, dan melepaskannya dari semua seginya yang material, tetapi tetap mempertahankan hal-hal yang hakiki, dan niscaya yang kini ‘diangkat’ dari unsur ruang dan waktu. Jadi disini berlangsung proses abstraksi atau proses immaterialisasi. Pengetahuan abstrak ini, menurut asal dan isinya, tetap bergantung pada indera, dan berhubungan dengan realitas.
Sekarang kesan tersebut, sesudah diangkat dari materi, menjadi cakap dan secara aktual sanggup diketahui, memasuki level of intelligibility. Berkat aktivitas ini, yang dalam istilah teknis disebut aprehensi sederhana psikologis muncullah species intelligibilis impressa. Species intelligibilis impressa tersebut, berkat aktivitas intellectus agens, kini bertindak sebagai pembantu kemampuan tahu intelektual manusia, yakni intellectus possibilis. Sedangkan proses menyadari species intelligibilis impressa ini disebut aprehensi sederhana logis. Maka muncullah konsep atau ide. Yang membuat kita tahu atau menangkap sesuatu disebut konsep mental, sedangkan apa yang kita tangkap tentang objek yang disodorkan, konsep mental  kepada akal budi, disebut konsep objektif.
Secara umum, proses pengetahuan mengenal dua momen, yaitu momen asensif (momen meningkat) dari tafar indera ini ke taraf intelektual, dan momen desensif (momen menurun), yakni kembali menyusun, menghubungkan diri dengan realitas konkret, kenyataan.
Dalam kaitan ini hendaknya diperhatikan bahwa ide/konsep kita tidak hanya berasal dari abstraksi langsung dari data pengalaman. Pembentukan ide/konsep juga dapat merupakan hasil dari refleksi, perbandingan, analisis, sintesis, atau keputusan dan pemikiran.
Kecuali itu, dalam pengetahuan intelektual tidaklah betul jika dikatakan bahwa hanya soal konsep sebab dalam pengetahuan intelektual, orang bicara tentang ada (realitas), tetapi yang ditangkapnya melalui ide/konsep.

0 comments:

Post a Comment